Dampak Pernikahan Dini terhadap Stunting

1 0
Read Time:1 Minute, 56 Second

BULUNGAN – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Bulungan menggelar seminar pencegahan stunting dan pengembangan potensi pola tumbuh kembang anak di Auditorium Lantai 3 Universitas Kaltara pada Sabtu (18/11).

Bersama narasumber Arief Boedi, S.Psi, M.Psy (clin), MD (Konsultan Pendidikan Anak, Psikolog Lulusan Seoul University Korea). Kegiatan merupakan bagian dari upaya percepatan penurunan stunting, menuju Generasi Emas 2045 sekaligus mendukung salah satu misi pembangunan di Kabupaten Bulungan yaitu meningkatkan kualitas SDM yang sehat, cerdas, berkarakter dan berdaya saing.

Seminar mengusung tema “Transformasi Pernikahan Dini dan Dampaknya terhadap Stunting : Menuju Generasi Sehat dan Berkualitas” dengan peserta para siswa tingkat SMP dan SMA beserta guru pendamping serta mahasiswa di Bulungan.

Ketua DWP Bulungan, Lenny Marlina Risdianto menjelaskan, angka prevalensi stunting di Bulungan tahun 2022 di angka 18,9 persen kemudian hingga Agustus 2023 di angka 16 persen sedangkan target nasional di tahun 2024 yaitu di angka 14 persen.

Meski angka prevalensi stunting di Bulungan lebih baik dibanding angka di tingkat provinsi maupun kabupaten kota se-Kalimantan Utara namun semua pihak harus terus berupaya melakukan percepatan penurunan stunting

“Salah satunya melalui kegiatan yang kita laksanakan pada hari ini, untuk memberikan pengetahuan, wawasan serta pemahaman kepada generasi muda, khususnya calon Pasangan Usia Subur atau calon pengantin hingga upaya transformasi pernikahan dini untuk mewujudkan generasi muda yang sehat dan berkualitas,” terangnya.

Dipaparkan, sedikitnya terdapat 3 titik upaya pencegahan stunting yang dapat dimulai dari pengetahuan calon pasangan usia subur atau calon pengantin bahwa anak yang sehat lahir dari ibu yang sehat.

Kemudian saat kehamilan di mana ibu hamil umumnya mengalami anemia terkait kebutuhan zat besi yang meningkat pada masa kehamilan. Dan pada kasus yang parah, anemia saat hamil dapat meningkatkan resiko bayi lahir prematur dan bayi berat badan lahir rendah, di mana kedua kondisi itu sangat erat kaitannya dengan stunting.

“Kemudian yang ketiga, yaitu masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang begitu krusial menentukan masa depan anak,” sebutnya. Dijelaskan, imulai sejak proses pembuahan dalam kehamilan, perkembangan fisik dan kognitif pada masa 1.000 HPK terjadi begitu pesat.

Ini yang membuat 1.000 HPK bisa menjadi kesempatan untuk mewujudkan masa depan anak yang sehat dan cerah serta bebas stunting.

“Oleh sebab itu, saya berpesan, kepada adik-adik sekalian, sebagai generasi muda, calon pasangan usia subur, agar dapat mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh, untuk meningkatkan wawasan, ilmu serta pengetahuan,” ujarnya. (*)

By Admin.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%