Aliran Sungai Bendungan Benanga Samarinda, Dua Anak Ditemukan Meninggal Usai Tenggelam

SAMARINDA — Pencarian terhadap anak tenggelam di aliran sungai Bendungan Benanga, Lempake Samarinda, berakhir duka. Tim SAR Gabungan menemukan korban kedua bernama Wahyu (13) dalam kondisi meninggal dunia di kawasan Betapus, Samarinda, pada Selasa siang 28 Oktober 2025.

Korban ditemukan sekitar pukul 14.02 WITA usai pencarian sejak Selasa pagi hari. “Sekitar pukul 13.35 WITA, tim menemukan korban atas nama Wahyu (13) di koordinat 0°24’18.9″S – 117°10’39.0″E, atau sekitar dua kilometer dari lokasi awal,” ujar Kepala Pos SAR Samarinda, Mardi Sianturi.

Jenazah korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke RSUD AW Sjahranie Samarinda untuk proses lebih lanjut sebelum diserahkan kepada pihak keluarga. Duka mendalam menyelimuti keluarga korban yang menanti hasil pencarian sejak sehari sebelumnya.

Sebelumnya, dua anak bernama Ahmad Nur Rahman (12) dan Wahyu (13) dilaporkan tenggelam saat berenang di aliran sungai Bendungan Benanga, Kecamatan Samarinda Utara, pada Senin sore 27 Oktober 2025 sekitar pukul 16.00 WITA.

“Sekitar jam 4 sore, lima anak bermain di tepi sungai. Rahman melompat ke air dan tenggelam. Temannya, Wahyu, berusaha menolong, tapi karena tidak bisa berenang, keduanya ikut hanyut terbawa arus,” jelas Mardi, Senin malam.

Korban pertama, Ahmad Nur Rahman, ditemukan pada hari yang sama sekitar 600 meter dari lokasi kejadian dalam kondisi meninggal dunia. Jenazahnya langsung dievakuasi ke rumah duka di Rumah Susun Bengkuring.

Menurut Mardi, arus sungai yang deras dan air keruh menjadi tantangan utama selama pencarian. Namun koordinasi solid antara Basarnas, BPBD Samarinda, Satpolairud, relawan, dan warga sekitar mempercepat proses evakuasi.

Agar tidak terulang tragedi anak tenggelam di sekitar Bendungan Benanga, pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak membiarkan anak-anak bermain di area sungai atau bendungan, terutama di musim hujan seperti saat ini. Arus Bendungan Benanga dikenal cukup kuat dan berbahaya bagi anak-anak maupun warga yang tidak bisa berenang. ***