SAMARINDA–Banjir yang melanda kawasan Rapak Dalam beberapa waktu lalu, menunjukkan bahwa penanganan banjir di kota ini belum maksimal. Salah satu solusi yang perlu dilakukan yakni memperbaiki drainase dan membangun kolam retensi.
Konsultan Master Plan Banjir Samarinda Eko Wahyudi menjelaskan, kajian Rapak Dalam sudah dilakukan sejak 2005, dan sudah ada perencanaan detail untuk normalisasi sungai di Rapak Dalam dengan pembangunan drainase dan kolam retensi. “Namun, sampai saat ini belum maksimal, bahkan kolam retensi belum terealisasi. Kami berharap kejadian banjir beberapa waktu lalu, pemkot bisa lebih serius menyelesaikan banjir di sana,” ujarnya, Minggu (14/5).
Dia menjelaskan, Rapak Dalam merupakan salah satu daerah aliran sungai (DAS) di Samarinda. Memiliki karakteristik sungai yang landai dan sempit. Lebar sungai eksisting kurang dari 10 meter. “Sedangkan debit air yang masuk ke sungai itu cukup besar, karena banyaknya aliran dari hulu,” ungkapnya.
Dia mengatakan, salah satu upaya yang pernah dilakukan Pemprov Kaltim untuk menangani banjir di Rapak Dalam adalah pembangunan saluran drainase utama pada 2013, dengan anggaran sekitar Rp 650 miliar (tersebar se-Samarinda). Saluran itu terhubung dari Jalan HAM Rifaddin depan SMA Plus, menuju Jalan Syahrani Dahlan, Jalan Harun Nafsi hingga bermuara di Sungai Mahakam.dan “Secara desain lebar bervariasi, antara 4 meter, 6 meter, 8 meter sampai 9 meter. Namun, dalam pelaksanaan saluran belum rampung sesuai perencanaan, saat ini saluran yang berukuran 4 meter belum selesai,” ungkapnya.
Eko menambahkan, saluran drainase utama juga mengalami masalah. Sebab, banyaknya aktivitas warga di atas sungai, seperti membuang sampah dan membuat bangunan liar. Hal itu menyebabkan saluran menjadi tersumbat dan tidak mampu menampung debit air saat hujan. “Salah satu contohnya di simpang SMA Plus. Saluran berukuran 3-4 meter, namun tembus ke Jalan Syahrani Dahlan, keluar dari situ malah cuma 80 cm saja. Itu juga belum selesai karena pembebasan lahan ke arah saluran Jalan Harun Nafsi masih belum diselesaikan, sehingga lebarnya bervariasi,” tuturnya.
Selain drainase, pentingnya pembangunan kolam retensi di Rapak Dalam. Kolam retensi adalah sebuah waduk atau bendungan kecil yang berfungsi menampung air hujan sementara sebelum dialirkan ke sungai. “Kolam retensi sudah ada perencanaannya oleh Pemkot Samarinda. Karena dahulu kami pribadi yang mendesain. Namun, belum ada realisasi,” ujarnya.
Adanya kolam retensi akan sangat membantu mengurangi debit air yang masuk ke sungai di Rapak Dalam saat hujan lebat. Dengan begitu, banjir bisa dicegah, minimal dikurangi tinggi genangannya. “Kalau retensi belum dibangun dan saluran drainase tidak dibenahi, pemerintah jangan mengharap banjir berkurang. Namun, dipastikan tinggi genangan dan lama waktu surut akan terus bertambah. Karena tutupan lahan semakin kedap, banyak pembangunan perumahan, pembangunan jalan dan rumah yang dibeton,” pungkasnya. (admin-TB).

















