Waspada Karhutla, Puncak Kemarau di Bulungan Diprediksi Juli 2026

BULUNGAN – Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan menggelar press release prakiraan musim kemarau tahun 2026 secara daring pada Rabu (29/4). Kegiatan diikuti Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, H Jamal, SH, MAP serta perangkat daerah terkait Pemkab di Ruang Rapat Wakil Bupati Bulungan.

Dalam kegiatan diungkapkan, prediksi curah hujan bulan Mei 2026 di Kalimantan Utara (Kaltara) umumnya masih basah. Curah hujan tinggi (300 – 500 mm) berpusat di Kabupaten Malinau dan sebagian Kabupaten Nunukan.

Sementara Kabupaten Bulungan dan Kota Tarakan berada pada kategori menengah (200 – 300 mm) dan Kabupaten Tana Tidung relatif lebih rendah (100 – 150 mm).

Prediksi puncak musim kemarau di Kabupaten Bulungan diperkirakan terjadi di bulan Juli 2026 bersamaan dengan Kota Tarakan. Sementara analisis curah hujan Dasarian II (periode 10 harian) di bulan April berdasarkan update 20 April 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Kalimantan Utara berada pada kategori menengah.

“Dengan konsentrasi tinggi – sangat tinggi di wilayah pesisir timur yang menunjukkan potensi kejadian hujan lebat cukup signifikan”.

Selanjutnya prediksi curah hujan Dasarian I di bulan Mei 2026 berdasarkan update 27 April 2026 diprediksi wilayah Kalimantan Utara secara umum akan mengalami curah hujan dengan intensitas menengah.

Diingatkan pula, memasuki bulan Juli 2026, beberapa wilayah di Bulungan berpeluang menengah terjadi karhutla (kebakaran hutan dan lahan) seiring prediksi puncak musim kemarau.

Memasuki bulan Agustus hingga September 2026, pada Kecamatan Tanjung Palas Timur berpeluang tinggi terjadi karhutla diikuti bagian Tengah dan Barat Kabupaten Bulungan yang berpeluang menengah.

Pemerintah daerah beserta stakeholder terkait diminta meningkatkan kewaspadaan akan potensi karhutla ketika memasuki periode musim kering atau kemarau monsunal pada bulan Juli/Agustus 2026.

Melakukan antisipasi dan langkah pencegahan kemungkinan kemunculan hot spot (titik api), serta mendorong upaya pembasahan lahan (utamanya lahan gambut) dan meninggikan muka air saat masih terdapat hujan/periode transisi. (*)