SAMARINDA, KALTIM —Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menyebut, pendangkalan atau shallow water level (SWL) di kawasan muara menjadi salah satu penyebab utama lambatnya aliran air. Dalam catatannya, kedalaman air di muara kini tak sampai empat meter.
Selama hampir dua dekade, Sungai Mahakam tak pernah mengalami pengerukan. Kondisi itu membuat muara sungai yang menjadi jalur utama keluar-masuk air dan kapal kini semakin dangkal. Dampaknya, aliran air dari hulu menuju laut menjadi tersendat setiap kali hujan deras atau air pasang.
“Sekarang SWL di muara itu cuma sekitar 3,8 meter. Jadi meski tidak hujan, ketika air pasang datang, Samarinda tetap kebanjiran,” ungkapnya, (29/10).
Rudy menjelaskan, kombinasi antara hujan deras dan pasang laut tinggi menyebabkan air sulit surut. Sedimentasi yang menumpuk dari wilayah hulu hingga muara membuat Mahakam makin dangkal dan kehilangan daya tampungnya terhadap debit air besar.
“Sedimentasi itu terjadi terus menerus, tapi sudah hampir 20 tahun Mahakam tidak pernah dikeruk,” ujarnya.
Dirinya memberikan contoh kondisi sungai di Kalimantan Selatan yang kini bisa dilalui kapal besar berukuran hingga 400 feet, dengan kapasitas 16.000 ton. “Sedangkan di Mahakam, kapal terbesar yang bisa lewat hanya 330 feet, dengan muatan maksimal 10.000 ton,” tuturnya.
Pemerintah provinsi, kata dia, telah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mencari solusi. Namun, keterbatasan anggaran menjadi hambatan utama.
“Hampir semua kementerian dan lembaga tidak punya dana untuk itu. Jadi harus dicari jalan tengahnya, apakah lewat kerja sama dengan pemerintah pusat dan pihak ketiga,” jelas Rudy.
Di sisi lain, Rudy menilai Pemkot Samarinda sudah berupaya memperbaiki sistem drainase dan membangun terowongan air. Namun, langkah itu belum cukup tanpa normalisasi sungai.
“Jalur air di kota sudah bagus, tapi kalau permukaan sungainya tinggi, air tidak bisa keluar,” katanya.
Ditegaskan, tanpa pengerukan, risiko banjir di Bumi Etam akan semakin meluas.
“Bayangkan saja, dari Mahakam Ulu sampai Bontang dan Kutim bisa terdampak. Kalau muara tidak segera dikeruk, banjirnya bukan hanya sering, tapi juga makin dalam,” pungkasnya. (***)




















