MAKASSAR – Pria 82 tahun menghuni gubuk ukuran 2×2 meter tanpa sekat di Dusun Kunjung Mange, Desa Kaluku, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, 81 km arah selatan Makassar.
Pria itu bernama Mustari Baso. Lahir 5 Februari 1943. Serma (Purn) Mustari Baso, sosok dulunya tegap menjaga negeri, kini hidup terlunta-lunta setelah ditelantarkan darah dagingnya sendiri.
Pria sepuh itu tinggal di ruangan sempit berukuran 2×2 meter, di rumah kerabatnya, H Jalling, di Dusun Kunjung Mange, Desa Kaluku, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Mustari bukan prajurit biasa. la pernah bertugas di medan-medan berat. Terakhir berdinas di Kabupaten Bulukumba dan tinggal mengontrak rumah bersama istri dan anak. Namun, nasib berkata lain.
Setelah puluhan tahun mengabdi kepada negara, di masa tuanya ia justru ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya.
“Istrinya lebih dulu pergi, lalu anaknya menyusul. Bahkan sempat meminta Pak Mustari mengambil uang di bank sebelum benar-benar ditelantarkan,” tutur Dg Sewang, anak dari H Jalling,
Uang diambil anak Mustari mencapai lebih dari Rp100 juta. Setelah itu, Mustari ditinggalkan begitu saja.
la sempat hidup tanpa arah di Kabupaten Bantaeng, lalu berpindah ke Makassar dan bertahan di Terminal Malengkeri selama sepekan.
“Hingga akhirnya, sekitar jam 12 malam, Pak Mustari tiba di rumah orangtua saya,” ujar Sewang.
Mustari datang hanya membawa sebuah ransel berisi beberapa potong pakaian dan kartu pensiunan TNI. Esok paginya, barulah keluarga Jalling menyadari siapa tamu yg datang malam itu.
“Selama dua tahun beliau sudah tinggal di rumah orangtua saya. Anaknya tidak pernah mencari. Kami juga kasihan,” ucap Sewang lirih.
Kini, Mustari menggantungkan hidup dari belas kasih kerabat. Meski hidupnya tak lagi megah, ia tetap menyimpan kehormatan sebagai prajurit.
“KTP baru sudah kami buatkan atas namanya, beralamat di Kampung Kunjung Mange, sebagai bukti kalau Pak Mustari tak sepenuhnya sendiri,” ungkap Sewang. ***





















