SAMARINDA, teropongborneo.my.id – Tercatat 140 kepala keluarga (KK) menjadi korban banjir terjadi Minggu (30/8) lalu di Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran. Genangan air setinggi hingga 110 cm merendam lima rukun tetangga (RT), dan terpantau surut Rabu (1/9). Tidak hanya itu, 19 KK di empat RT Kelurahan Handi Bakti merasakan hal serupa. Bahkan lebih dari 25 hektare sawah dan 250 pohon hortikultura warga terdampak.
Camat Palaran Suwarso menerangkan, banjir yang terjadi di kelurahan Bukuan diakibatkan jalur air menuju hilir di Sungai Mahakam mengalami penyempitan. Lebarnya hanya sekitar 2 meter, dengan alur yang berkelok. Selain itu, terdapat penyempitan-penyempitan drainase permukiman membuat arus air terganggu. “Jumlah penduduk makin banyak, dan pembangun membuat drainase penuh sedimentasi ukurannya juga menyempit,” ucapnya, Minggu (5/9).
Dia menjelaskan, jalur anak sungai di Kelurahan Bukuan menuju Sungai Mahakam terdapat empat jalur, beberapa di antaranya kondisinya buruk dari penyempitan akibat semakin banyak rumah warga, serta penumpukan sedimentasi akibat minim normalisasi. Hal itu menjadi penyebab air dari arah hulu menggenangi permukiman sebelumnya mengalir ke Sungai Mahakam.
“Rata-rata penyempitan seperti di belakang perusahaan PT Samudra Golden Mitra, serta di depan TPK Palaran, begitu juga jalur di Jalan Nakhoda,” ucapnya.
Wali Kota Samarinda Andi Harun berkesempatan meninjau jalur air, terutama di simpang empat jalan menuju TPK Palaran, melihat jalur air yang terhambat, Minggu (5/9). Politikus Gerindra itu bahkan sempat masuk ke jalur parit di samping ruko retail modern yang lebarnya sekitar 0,5 meter. Serta melihat sungai alami di tepi jalan akses TPK Palaran.
“Di sini kami menemukan dua lahan milik masyarakat yang mengambil hak sungai. Makanya kami minta kepada camat untuk melakukan koordinasi dengan warga terkait rencana pengerukan untuk mengembalikan lebar sungai alami dari 1 meter menjadi 4-5 meter,” ucapnya.
Selanjutnya, pihaknya akan berkoordinasi dengan PT Samudera Indonesia (SI) untuk membantu alat berat untuk normalisasi sungai sementara. Untuk jangka panjang, dia akan memprogramkan pekerjaan fisik untuk pelebaran anak sungai menuju Sungai Mahakam. “Jangka panjangnya kami target tahun depan proyek fisik pelebaran drainase bisa jalan,” ucapnya.
Kembali ke Suwarso, pihaknya sudah mendapatkan laporan pemilik lahan yang menyebabkan penyempitan di akses menuju TPK Palaran, tepatnya di RT 21 Bukuan, untuk persiapan pembongkaran sesuai arahan wali kota. Sedangkan untuk sisi hilir, pihaknya akan berkoordinasi dengan perwakilan PT Samudera Golden Mitra untuk meminta lagi lahannya guna pelebaran sungai, yang sebelumnya sudah meminta sekitar satu meter, hingga rencana lebarnya mencapai 3 meter.
“Kami akui ada kekurangan dalam pengawasan, sehingga ada warga yang mau menguruk lahannya tetapi memakan badan sungai. Kami bekerja cepat sesuai arahan wali kota,” tutupnya. (red-HR)





















