SAMARINDA KOTA. Sebanyak 360 360 asal Samarinda memulai perjalanan ibadah ke Tanah Suci pada Selasa (6/5) pagi. Mereka dilepas dari GOR Segiri oleh Wali Kota Andi Harun, di tengah suasana haru dan iringan doa dari keluarga yang turut mengantar.
Selanjutnya, para jemaah akan diantar terlebih dahulu ke Embarkasi Balikpapan untuk kemudian diberangkatkan ke Makkah. Bagi sebagian jemaah, kesempatan ini adalah hasil dari penantian panjang, bahkan ada yang harus menunggu hingga belasan tahun.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, yang hadir untuk melepas keberangkatan, mengungkapkan rasa syukur atas lancarnya proses pemberangkatan dan mendoakan agar seluruh jemaah diberi keselamatan serta kesehatan selama perjalanan.“Kami semua mendoakan mereka pulang dengan menjadi haji dan hajah yang mabrur,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan selama perjalanan panjang menuju Tanah Suci. Sebab, perjalanan ini akan memakan waktu tak kurang dari 42 hari, dengan perbedaan cuaca yang bisa memengaruhi kondisi tubuh. “Pesan saya, istirahat yang cukup, makan teratur, dan saling menjaga satu sama lain adalah kunci agar ibadah ini berjalan lancar,” terang Andi Harun.
Kepala Kemenag Kota Samarinda, Aji Mulyadi, menjelaskan bahwa kloter dua ini merupakan kloter penuh yang berasal dari Samarinda, dengan jumlah 360 orang termasuk petugas. Ia juga memastikan para jemaah telah mempersiapkan diri melalui rangkaian manasik haji yang meliputi persiapan ibadah dan kesehatan.
“Kami berharap mereka dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan kembali dengan selamat, serta mendapatkan predikat haji mabrur,” katanya.
Di pengujung acara, orang nomor satu di Samarinda ini juga tak lupa memberikan bantuan berupa uang saku kepada seluruh jemaah senilai 100 riyal atau jika dirupiahkan sekitar Rp 439 ribu. Salah satu jemaah, Anas (35), tak segan membagikan kisahnya. Ia telah menunggu selama 13 tahun untuk bisa berangkat ke Tanah Suci.“Rasa senang dan haru tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya berangkat bersama orang tua saya yang sudah berusia 61 tahun,” ujar Anas.
Menjelang keberangkatan bersama orang tuanya, tentu ada sejumlah persiapan panjang yang telah ia lakukan. Namun, yang terpenting saat ini baginya adalah memastikan kondisi kesehatan dirinya dan orang tuanya, agar mampu menjalani serangkaian ibadah di Tanah Suci.“Karena ini adalah impian yang akhirnya terwujud, maka kondisi kesehatan memang penting untuk dijaga,” ucap Anas.
Hal serupa diungkapkan Firmawati (28) yang berangkat bersama keluarga besarnya. Ia mengaku sempat merasa gugup bercampur haru lantaran telah menunggu selama 12 tahun. Kini penantian panjangnya tidak sia-sia, karena ia tidak hanya berangkat sendiri, tetapi bisa menjalankan ibadah bersama sembilan anggota keluarganya. (**)



























